KEKERASAN YANG MAKIN MERAJALELA SANGAT MENGHAMBAT PENYELESAIAN DALAM BIDANG APAPUN
Penulis sedang mengamati melalui internet segala bentuk berita yang menyangkut hal <kekerasan> yang terjadi dimana. Rupanya masih saja belum ada kemampuan untuk meredakan hal itu. Akibatnya akan berdampak pada usaha untuk melaksanakan perdamian menyeluruh.
Hal perdamaian antar manusia sudah tidak merupakan hal penting untuk diusahakan dengan tuntas. Kekurangan serta hambatan yang menjadi handicap di dalam hal ini, terdapat pada pengendalian sifat emosinal. Banyaklah hal-hal yang telah menjadi penyebab di dalam hal ini.
Yang pertama kali adalah bagaimana para pemimpin melaksanakan tatanan emosi terhadap adanya informasi yang menjadi picu dari timbulnya gejolak tersebut. Kita ketahui, bahwa menyelesaikan masalah memerlukan hal yang tidak maudah. Harus mempunyai <kepala dingin> yang terkendali dan tak dapat dipengaruhi oleh infromasi yang membawakan panas hati sehingga dapat merusak kondisi <kepala dingin> tadi.
Sebagai suatu contoh, melerai suatu gejala baku hantam antar kelompok tidak dapat diselelsaikan dengan cara kekerasan. Banyak yang melaksanakan hal itu dengan memperlihatkan bahwa ada kekuatan fisik yang berlebihan. Sering di dalam hal ini akan meningkatkan kesemrawutan cetusan pikiran yang dipacu oleh kondisi kekalutan fisik tersebut.
Alhasil ada saja suatu kondisi yang bisa melaksanakan peredaan dari kekalutan tersebut dengan mempengaruhkan kemampuan <Mental> yang akan memberikan rasa keinsyafan, bahwa urusan berbeda pendapat yang telah mengakibatk kekerasan hanya dapat diselelsaikan melalui pikiran yang tenag dan segar, bukan?
Panasnya bentuk pikiran tidak bakal mampu menyelesaikan hal yang sudah dikobarkan oleh kepanasan <hati nurani>. Kita ketahui bahwa bentuk fisik seseorang yang sedang terlanda oleh kekalutan pikiran tidak lagi seperti biasa. Matanya membsar, raut mukanya tegang, warna kulitnya menjadi pucat, karena aliran darah terpusat pada bilangah perototan unatu mempersiapkan melaksanakan bela diri atau unutk menlaksanakan pukulan, sepertinya terjadi bila diserang oleh hal yang dahsyat.
Dengan sendirinya, yang melihat hal itu akan terrangsang untuk juga membentuk gejolak semacam itu yang akibatnya memberikan pikiran yang tidak lagi wajar dan <tenang>. Hanya ketakutan akan terkena serangan fisik akan menimbulkan justru persiapan yang sering kita dapat pantau didalam hal bila menghadapi suatu kondisi yang membahayakan.
Bahwa getaran-getaran atau vabrasi-vibrasi akan mempengaruhi suatu lingkungan, sudah sering kita alami, bila terjadi teriakan yang menyatakan bahwa dilingkungan sedang terjadi kemalingan. Semua orang akan terpacu <emosi>-nya untuk mempersiapkan diri menangkap orang yang dikatakan maling itu.
Bila kita masih berada didalam rumah, maka pengaruhnya belum begitu keras. Tapi sesudah kita keluar rumah dan berbaur diantara orang-orang yang sedang mengejar menangkap maling tersebut, maka dengan sendirinya emosi kita akan menyesuaikan diri dengan yang telah dibentuk dan dicetuskan oleh lingkungan, bukan demikian sering terjadi?
Didalam hal seperti ini tidak ada lagi cetusan pikiran apakah kita sudah benar untuk menuduh seseorang sebagai maling. Ada kemungkinan hal itu mungkin ada kesalahan arah tudingan. Jadi disinilah sudah seakan tertutup kondisi penglihatan atau visi kita yang terkena getaran provokasi negatif dan tidak lagi adanya kemungkinan bahwa yang tertuduh bukan maling yang sebenarnya!
Apakah didalam kondisi seperti itu kita masih mampu berfikir secara tenang dan penuh pengertian akan kesalahan yang telah terjadi oleh lingkungan? Seperti saja kejadian dilapangan pertempuran dimana kita sebagai seorang prajurit yang telah terhasut untuk membunuh “musuh” sebelum terbunuh sendiri oleh “musuh” tadi.
Disinilah, para pembaca yang setia mengikuti ulasan-ulasan pada ‘Magic Brain’, bahwa kelemahan manusia untuk dikendalikan oleh kekuatan yang berada diluar diri kita menjadi suatu kenyataan yang sifatnya sudah tentu tak dapat dikatakan <positif>, bukan?
Seperti itulah kini pengaruh lingkungan dunia akan bercengkerema pada diri kita swbgab berbagai bentuk rasa yang menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan. Kita tak berpikir lebih panjang dan mendalam, bahwa justru yang sedang mempengaruhi pikiran itu akan menjadikan <imajinasi> yang akan dijadikan dasar untuk membuat suatu <realita>. Dan memang inilah kenyataanya yang hakiki. Hanya saja tak diperhatikan dengan seksama oleh kebanyakan diantara kita.
Oleh karena itu, sebaiknya kita lebih mewaspadai diri kita sendiri daripada selalu menuju kepada lingkungan dan orang lain yterlebih dahulu yang setiap kali tak dirasakan dengan tuntas!
Masih sangsi akan kebenaranya?
Sumbangan pikiran dari dimensi “subyektif” bagi kamu sekalian. Perhatikan diri sendiri terutama, dan akuilah kekurangan kita masing-masing di dalam mengendalikan EMOSI.
Emosi sangat merugikan, karena halnya “Merusak” dan bukan “Membangun, bisa mengerti hal ini?
Lasmono Abdulrify Dyar
Like this:
This entry was posted on October 2, 2009 at 2:30 pm and is filed under EFEK DARI EMOSI, KEKERASAN, KEKERASAN EFEK DARI EMOSI. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.